Sunday, 4 December 2011
Home »
» ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN MASALAH ADAPTASI BIOPSIKOSOSIAL- SPRITUAL
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN MASALAH ADAPTASI BIOPSIKOSOSIAL- SPRITUAL
1. ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN HOSPITALISASI
PENDAHULUAN
Individu biasanya dirawat di RS bila memerlukan pelayanan dari Institusi secara total dalam waktu yang lama. Yang termasuk dalam Institusi ini adalah rumah perawatan, rumah sakit, perawatan psikiatri, puskesmas, dan lain sebaginya. Institusi secara total ditandai dengan
beberapa faktor : 1) klien menghabiskan sebagain besar waktunya dalam institusi 2) ada batas yang jelas antara klien dan pengelola 3) ada garis hirarki antara pengelola dengan klien 4) ada kesempatan dari klien untuk menjalankan insiatif sendiri.
A. DefenisiRussel Berton (1959) memberikan defenisi tentang Hopitalisasi adalah terjadinya beberapa perubahan psikis yang terjadi akibat yang bersangkutan dirawat disebuah insitusi seperti rumah perawatan.B. KarakteristikMenurut Berton tingkah laku klien yang dirawat di rumah sakit dapat dikenal dari:1. Kelemahan berinisiatif2. Kurang/tidak ada perhatian tentang masa depan3. Tidak berminat (tidak ada daya tarik)4. Kurang perhatian dalam perawatan diri5. Ketergantungan pemenuhan kebutuhan dari orang lain C. Faktor-Faktor Yang mempengaruhi Persepsi SakitMenurut Rusel Berton :1. Kepribadian ManusiaTidak semua orang peka terhadap hospitalisasi. Terdapat beberapa klien yang masih melakukan beberapa aktifitasnya secara mandiri dan sebagian lagi tidak melakukan sama sekali aktifitas sehari-harinya untuk memenuhi kebutuhannya. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah kepribadian manusia. Beberapa tipe kepribadian tertentu yang mempengaruhi persepsi sakit :a. Tipe kepribadian A ditandai dengan ambisius, berusaha mencapai nilai setinggi-tingginya, cepat marah, penyakit yang sering dialami adalah penyakit cardiovascular misalnya stroke.b. Tipe kepribadian B ditandai dengan sikap lambat, acuh tak acuh, sering menunda pekerjaan, kesan pemalas, toleransi tinggi, penyakit yang sering dialami : defresi dan halusinasic. Tipe kepribadian C ditandai dengan rasa sosisl yang tinggi, penyakit yang sering dialami adalah Ca.2. Kehilangan Hubungan Dengan Lingkungan Luar.Klien yang dirawat akan kehilangan hubungan dengan lingkungannya, sehingga lingkungan yang baru dapat menimbulkan perasaan tidak aman dan menimbulkan kecemasan. Orang-orang yang sebelumnya sangat dekat dan berarti dalam hidupnya berangsur-angsur mulai kehilangan. Mereka umumnya datang berkunjung dengan suasana yang sangat berbeda sebelum klien dirawat. Hubungan terbatas pada kelompok institusi perawatan misalnya dengan staf dan klien lain. Lingkungannya terbatas pada lingkungan kecil, apa lagi mungkuin ia akan bergaul dengan orang-orang yang bukan pilihannya. Hal lain yang dipersepsi klien sebagai sumber kecemasan adalah kehilangan peran dan fungsinya dalam keluarga, pekerjaan dan masyarakat.3. Sikap Pemberi PerawatanKlien dengan hospitalisasi dengan tingkat ketergantungan yang tinggi, pemenuhan kebutuhannya sangat ditentukan oleh pemberi perawatan. Klien harus mengikuti anjuran , sehingga dapat mengakibatkan terjadinya harga diri rendah. Apabila pemberi perawatan hanya melakukan aktifitas rutin dan tidak melibatkan klien dalam perawatannya maka hal ini berarti bahwa perawat menanamkan hospitalisasi kepada klien.4. Suasana PerawatanSuasana lingkungan perawatan sebagain besar ditentukan oleh personel perawatan. Pola hubungan antara sesama staf dan kepada klien yang kurang hangat, akan membuat klien lebih cepat merasa dihospitalisasi. Apabila klien merasa bahwa mereka bukan bagian penting dalam perawatan akan menambah ketergantungan klien.
5. Obat-ObatanObat-obatan dapat berpengaruh terhadap sikap klien terhadap hospitalisasi. Beberapa obat-obatan yang dapat mengakibatkan adanya tanda-tanda yang sama dengan hospitalisasi, misalnya obat-obat yang dapat merangsang adanya sikap yang menunjang hospitalisasi misalnya obat-obat yang menakan CNS dengan efek sedasi, mengantuk, lesu.D. Reaksi-Reaksi Spesifik Terhadap penyakit1. Anxiety (kecemasan)Merupakan respon awal yang paling nyata terhadap diagnosa penyakit. Terjadi karena setiap penyakit berarti suatau kegagalan dan kegagalan yang komplit/berat dapat berakibat kepada kematian2. SyockRespon terutama bila penyakit yang dialami serius, yang mengakibatkan orang tidak mampu berpikir rasional dan realistis.3. Denial ( meningkari )Mengingkari kenyataan, suatu cara untuk berlindung karena belum siap menerima. Contoh pengingkaran secara verbal : “saya tidak sakit” atau “bagaimana mungkin saya menderita kanker” atau “ saya tidak percaya”4. CurigaBerhubungan dengan denial, klien yang curiga tidak dapat menutupi perasaannya, sehingga mencoba berbagai alasan yang meragukan diagnosa penyakitnya, ditandai dengan klien banyak mengajukan pertanyaan.5. BertanyaTerutama ditujukan pada diri sendiri, klien berusaha meninjau kembali kehidupannya, klien percaya bahwa ada alasan dan tujuan dari penyakitnya.6. Merasa tidak beraratiKeadan sakit membuat klien marasa tidak berarti, berharga karena tidak dapat melakukan perannya, pekerjaannya dan karena ia tergantung pada orang lain.7. Regresi dan perasaan tergantungDalam keadaan regresi klien mungkin menganggap perawat seperti tokoh ibu yang merawatnya dengan penuh kasih saying dan perhatian.
8. Rasa malu dan bersalahHal ini terjadi bila klien menganggap penyakitnya sebagai hukuman dari Tuhan misalnya kerna mengalami penyakit kelamin, TBs,dll9. Merasa di tolakKarena klien disiolasi dari pola kehidupan sehari-hari, misalnya karena penyakit menular yang mengharuskan harus diisolasi atau bila kunjungan keluarga kurang.10. TakutTakut terhadap tempat yang asing, terhadap alat-alat perawatan, ditinggal sendiri dan diisolasi dari orang yang dicintai.11. Mengasingkan diri dan depresiBiasanya tampak sedih dan kurang memperhatikan penampilan dirinya, gerakan tubuh menjadi lamban. Perawat perlu memberikan kesempatan kepada klien untuk mengekpresikan perasaan dan pikirannya dan menunjukkan sikap empati penting memberi kesan bahwa perawat siap menolong, dan bila berat perlu bantuan/dirujuk ke ahli jiwa dan pemuka agama.E. Dampak Sakit dan Dirawat Terhadap Kemampuan Koping Beberapa dampak sakit dan dirawat terhadap kemampuan koping klien antara lain :1. Gangguan konsep diri, : citra diri negatif, harga diri rendah2. Regresi3. Ketergantungan4. Depersonalisasi5. Takut dan cemas6. Kehilangan dan perpisahanF. Proses Keperawatan1. PengkajianPada tahap ini perawat mengeksplorasi reaksi klien terhadap sakit dan hospitalisasi, pengaruh hospiotalisasi terhadap klien, keluarga dan lingkungan. Pertanyaan yang ditujukan pada klien misalnya : “bagaimana perasaan anda selama dirawat?, apa yang menjadi masalah sekarang ? harapan anda tentang masalah ? bagimana anda mengatasi masalah selama dirawat di rumah sakit?.Pertanyaan kepada keluarga “ apakah adan perubahan dalam keluarga yang disebabkan perawatan klien di rumah sakit, bagaimana keluarga mengatasinya “2. Diagnosa KeperawatanBeberapa diagnosa keperawatan yang dapat ditemukan pada klien dengan hospitalisasi :- Anxiety - Gangguan konsep diri : citra diri negatif, harga diri rendah- Distress spritual- Tidak efektifnya koping keluarga- Perasaan tidak aman dan terancam- Gangguan dalam hubungan perkawinan- Immbobilitas3. IntervensiDisesuaikan dengan diagnosa keperawatan yang ditemukan. Prinsip adalah memenuhi kebutuhan klien, secara bertahap libatkan klien dalam perawatannya, ciptakan suasan aman dan nyaman, tingkatkan hubungan dengan keluarga.4. EvaluasiSetelah perawatan klien diharapkan :- Menyatakan menerima realitas- Berpartisipasi dalam pemenuhan kebutuhannya sesuai dengan kemampuan- Klien mendapat dukungan keluarga dalam perawatan
2. ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PENYAKIT KRONISI. KONSEP DASARA. Pengertian Penyakit kronis adalah : Gangguan kesehatan yang berlangsung lama dan menahun, yang tidak bisa diperbaiki, dan terjadi gangguan akumulasi (gabungan) atau disebut juga penyakit laten. Beberapa kondisi kronis menyebabkan perubahan yang irrevesibie pada struktur atau fungsi dari salah satu atau lebih pada system tubuh.The Commition on cronic illness mendefinisikan bahwa penyakit kronis adalah : Suatu kerusakan (kelemahan )atau adanya deviasi dari keadaan normal dengan satu atau lebih kateristik seperti : sifatnya menetap,adanya gejala sisa (ketidak mampuan ) yang mengakibatkan gangguan potologik yang sifatnya non revesible yang memerlukan latihan khusus pada klien untuk rehabilitasi yang diperlukan untuk mangobservasi dan melakukan perawatan sepanjang periode penyakit tersebut.Dari pengertian diatas setidaknya terdapat 2 unsur kondisi penyakit kronis:Ketidakmampuan: Berkurangnya kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu akibat adanya gangguan pada fisik dan mentalnya.Kerusakan : Gangguan yang actual terjadi pada struktur atau fungsi baikpad atonomi, fisiologi, mental maupun spritual yang abnormal.Perubahan fungsi yang terjadi baik kualitas maupun kuantitasnya mengalami penurunan akibat dari penyakit atau injuri serta negatif self image atau perilaku sosial yang negatif lain yang menuju pada ketidakmampuan seseorang.Saat penyakit atau injuri meninggalkan gejala sisa atau kemungkinan kembali lagi pada keadaan yang buruk, maka kilen dan keluarganya akan menghadapi perubahan dan gangguan dalam cara hidupnya.B. Rentang ResponRentang respon psikologis pada penyakit kronis.Respon adaptif Respon Maladaptif.
Harapan Ketidak Pastian Putus asa Harapan :Mempengaruhi respon psikologis tehadap penyakit fisik kronis.Bila harapan menurun akan meningkatkan stress dan bila harapan meningkat dapat menurunkan stress. Klien mungkin menggunakan koping yang tidak adekuat yang dapat menimbulkan masalah kesehatan jiwa.Ketidak Pastian : Penyakit kronik dapat mengikatkan ketidak pastian yang disertai dengan rasa tidak aman dan putus asa, keadaan ini mempercepat klien masuk pada respon maladaptaf.Putus Asa :Ditandai dengan pasif, sedih dan seolah-olah tidak ada lagi harapan untuk berhasil . Kondisi ini dapat membawa keadaan merusak atau mencederai diri.C. Jenis Penyakit KronisDibawah ini adalah contoh jenis penyakit kronis dan kriteria serta pengawasan yang dibutuhkan :1. Jenis-jenis penyakit kronis:a. Gagal Jantung.b. Gagal Ginjal Kronisc. Penyakit parkinsond. Diabetes milituse. Multiple sclerosis dan sebagainya2. Kriteria penyakit kronis :a. Terdapat kelemahan.b. Terdapat keterbatasan.c. Memerlukan kontroling perawatan yang terus menerus dalam jangka panjang untuk obat-obat dan diet.d. Memerlukan program rehabilitasi untuk menyesuaikan aktifitas dengan kondisi penyakitnya.3. Pengawasan dari penyakit kronis.Hal-hal yang pelu diperhatikan dalam pengawasan penyakit kronis yaitu : a. Peningkatan kesehatan b. Pencegahan penyakit yang spesifik.c. Identifikasi pengobatan atau pengenalan diri dan pengobatan d. Mengurangi ketidakmampuan bagi klien penyakit kronise. RehabilitasiD. Efek penyakit kronis.Respon sesorang terhadap penyakit kronis atau ketidak mampuan merupakan suatu proses yang kompleks yang dapat mengakibatkan munculnya banyak permasalahan. Faktor yang mempengaruhi respon seseorang terhadap penyakit kronis adalah : Klien Keluarga Lingkungan Respon seseorang terhadap kehilangan dipengarhui oleh beberapa faktor yaitu : 1. Faktor Konstitusional yang membantu menentukan kapastian kognitifnya.2. Tempramen atau watak.3. Perkembangan kepribadiaan.4. Persepsi terhadap perubahan atau kehilangan.5. Adanya sumber-sumber personal pada saat kehilangan.6. Strategi koping.7. Penerimaan terhadap kehilangan sebagai bagian dari tujuan hidup.12 macam tingkatan penyusuain diri terhadap kondisi kronis atau ketidakmampuan adalah sebagai berikut :1. Adanya shock2. Cemas3. Tawar-menawar(bargaining)4. Menolak (denai)5. berkabung6. Depresi7. Menarik diri8. Marah 9. Permusushan dan sikap melawan/menyerang10. Pengakuan 11. Penerimaan12. Penyesuaian Ketika kondisi klien melemah dalam kondisi kronis secara tiba-tiba akan timbul shock phisiologis yang diikuti pertahanan psikologik dimana diperlukannya suatu perlindungan/proteksi terhadap stress yang lebih lanjut. Dengan kondisi kronis ini akan timbul perasaan mengingkari (denial) yang merupakan reaksi klien tehadap kondisinya tersebut, dimana klien menolak atau tidak menerima situasi yang dihadapinya. Bentuk perilaku timbulnya penolakkan terjadi pada saat : Menolak secara verbal Tadak berpastisipasi dalam perencanaan dan pengambilan keputusan Tidak mau memodifikasi atau rencana menolak berpatisipasi.Peryataan yang sering diucapkan adalah “itu tidak benar”, “itu tidak mungkin”, “Saya tidak percaya”. Cara ini berfungsi untuk melindungi individu dari situasi stress akibat kondisinya. Kemudian pada saat meningkatnya kesadaran pada kenyataan, maka reaksi marah dapat timbul baik dari dalam dirinya maupun dalam lingkungannya. Kecemasan seseorang terhadap kehilangan diimplikasikan dengan respon marah yang dapat bersifat deskruktif dan konstruktif. Kesalahan dilimpahkan pada dirinya sendiri atau pada keluarganya dan pemberi pelayanan kesehatan yang akan berkembang menjadi depresi yang kemudian akan timbul tawatr-menawar (bargaining) dimana klien (individu) akan menerima kehilangannya.Seseorang yang mengekspresikan kekuatan terhadap kondisinya yang kronis dengan marah cenderung mengarah pada reaksi depresi. Seseorang mengekspresikan penderitaannya (kehilangan) dengan marah merupakan manifestasi dari cemas yang sangat diderita oleh seseorang yang mengidentifikasikan bahwa dirinya tidak berdaya. Klien merasa irritable dan hipersensitif terhadap gangguan suara dan cahaya. Adanya Cardiac palpitasi, sesak nafas, nausea, mulut kering, diare, tidak nafsu makan, bingung dan sebagainya. Jika terjadi kemunduran pada pertahanan dirinya akan timbul halusinasi dan delusi.Seseorang dengan penyakit kronis pada tingkat depresi yang tinggi akan menarik diri dari lingkungan sosialnya, keluarga, dan teman,pemberi pelayanan kesehatan, klien yang lain dimana hal tersebut sifatnya patologis. Dan depresi yang jauh lagi akan berpengaruh pada gangguan konsep diri ia dapat mengalami kekecauan identitas,kebingungan peran.Partisipasinya pada perawatan dirinya memburuk,pemenuhan makan dan tidurnya akan terganggu dan klien nampak tidak banyak berbicara dan sering menangis.Jika semua fase-fase penyesuaian terhadap kondisi penyakit kronisnya telah dialaminya/ dilewatinya maka akan timbul fase pengakuan, penerimaan dan penyuseian, klien menerima kenyataan , rasa tanggung jawab mulai timbul dan usaha untuk pemulihan dan partisipasi dalam pengobatan dapat lebih optimal.E. Pola interaksi.Pola interaksi penyakit kronis timbul pada klien, keluarga dan lingkungan/komoditas :1. Pola interaksi klien.a. Kehilangan fungsi fisik : Adanya perubahan pada struktur tubuh dan fungsinya berpengaruh terhadap penampilan dirinya dan gambaran dirinya yang dapat menimbukan strees pada saat berinteraksi dengan lingkungannya. Misalnya beberapa penyakit neurology dapat mengakibatkan terganggunya koordinasi tubuh, vokal dan ekspresi wajah.b. Kehilangan fungsi mental :Perubahan fungsi organ tubuh akibat penyakit kronis yang diderita seseorang akan mempengaruhi fungsi mentalnya sebagai efek dalam pengobatan yang diberikan, contohnya pada klien yang truma cerebro vascularis yang dapat mempengaruhi fungsi kognitif dan afektif seperti diasorientasi dan melemahnya daya ingat.c. Kehilangan lingkungan keluarga Klien dengan penyakit kronis seperti pada gagal ginjal diprlukan suatu program terapi hemodialisa dan beberapa program rehabilitasi yang memakan waktu lama dan menimbulkan perubahan lingkungan pada diri klien atau meninggalkan lingkungan keluarganya.d. Kehilangan kenyamanan.Klien detan penyakit kronis khusus bila bila dipasangankannya peralatan pada tubuhnya akan mengakibatakn adanya ketidaknyamanan dimana pemenuhan kebutuhan perlu bantuan orang lain dan menimbulkan perasaan kertegantungan.e. Kehilangan kesehatan/kesejahteraan.Sehat dan sakit termasuk konsep dalam diri seseorang.Sebelum mereka menjadi sakit biasanya orang merasa dirinya dirinya sehat dan semangat dalam hidupnya. Sakit kornis dan ketidakmampuan merubah dimensi ini dari konsep dirinya, yang dapat menimbulkan ketakutan dan kecemasan akibat krisis fisik yang dialaminya. Proses penyakitnya akan menambah stress fisik yang dialaminya. f. Kehilangan konsep diri.Klien dengan kondisi kronis akan menimbulkan kehilangan konsep dirinya kehilangan strutur dan fungsional tubuh akan menimbulkan citra diri negatig dan mengakibatkan harga diri rendah yang dapat mempengaruhi dalam berinteraksi dengan orang lain ,klien dapat menarik diri dari hubungan sosial.g. Kehilangan peran sosial.Kehilangan struktur dan fungsional dan ketidakmampuan mengakibatkan klien tidfak dapat menjalankan perannya dalam lingkungan sosial sebagaimana mestinya.2. Pola interaksi keluarga. Pada keluarga dimana ada anggota keluarganya yang mengalami sakit koronis, maka pada anggota keluarga yang akan timbul rasa kecemasan dan ketakutan akan kehilangan anggota keluarga yang sakit (adanya suatu perubahan fungsi peran). Oleh karena itu diperlukan suatu fungsi atau cara yang efektif pada keluarga tersebut yang dinamis dengan cara saling pengertian antara sesama anggota keluarga yang lain. Anggota keluarga diharapkan dapat memberikan perannya dalam fungsi perawatan keluarga sehingga membangkitkan harapan untuk meminimalkan respon kehilangan yang terjadi, agar tidak menimbulkan depresi pada klien maupun anggota keluarga yang lain.3. Pola interaksi lingkunganAdanya tingkatan masyarakat yang berbeda – beda sering kali timbul respon negatif terhadap anggota masyarakat yang mengalamin penyakit kronis dan ketidakmampuan, atau terhadap orang – orang cacat. Kehadiran orang – orang ini dapat menimbulkan suatu konfrontasi sosial di masyarakat. Seperti adanya diskriminasi pekerjaan dan sifat protektif terhadaf orang – orang dengan penyakit kronis dan ketidak mampuan. Pada masyarakat kita terdapat empat rintangan atau penolakan terhadap orang – orang tertentu dimana hal tersebut akibat adanya tantangan untuk kembali kemasyarakatnya yaitu : a. Kekacauan system nilai (confused value system)Adanya filosofi dimasyarakat terutama diperkotaan tentang konsep – konsep individualisme, sering kali merupakan hambatan bagi orang – orang dengan penyakit kronis, yang membutuhkan bantuan orang lain atau pihak keluarganya sendiri yang kadang tidak dapat atau segan menggunakan perannya sebagai pendukang.b. Masalah mobilitas .Jika kita melihat dimasyarakat jarang sekali ada fasilitas yang memadai bagi oaring – orang dengan keadaan cacat / kondisi lainnya tidak tersedia khusus dengan orang – orang yang mengalami penyakit kronis/ketidakmampuan. c. Hambata untuk memasuki dunia pekerjaan.Bagi orang – orang cacat dan penyakit kronis sering kali sulit mendapatkan pekerjaan dan sangat sedikit sekali partisipasi masyarakat untuk memperkerjakan mereka.d. Masih kurangnya penerapan Tekhnologi .Penggunaan teknologi semakin maju dimasyarakat tetapi masih sedikit sekali penerapan teknologi untuk membantu aktifitas bagi penderita cacat.F. PsikopatologiGangguan psikologi pada klien dengan penyakit kronik antara lain : a. Marah, cemas dan depresi.b. Danial.c. Masalah penyesuaian diri.d. Menolak atau memberontak.e. Kehilangan rasa nyaman.G. Etiologi.Adapun etiologi dari penyakit kronik, biasanya akan terlihat dari segi fisik maupun psikis, yaitu :1. Faktor fisik.Pada klien dengan penyakit kronik, dapat dilihat etiologi sebagai berikut : Adanya kelemahan fisik, kelainan pada system atau organ tubuh yang mempengaruhi system atau organ tubuh yang lain, penanganan penyakit kurang tepat.2. Faktor psikisFaktor psikis yang mempengaruhi prilaku dan keadaan klien, yang dapat meringankan atau memperberat penyakit klien antara lain : Koping klien.Bila klien menggunakan koping yang maladaptif dapat memperberat memperberat penyakitnya. Stress.Intervensi yang dilakukan pada klien khususnya bila memerlukan peralatan yang banyak, obat yang bervariasi akan menyebabkan stress, sehingga dapat memperberat sakitnya. Menarik diri.Klien merasa dirinya terisolasi dari orang lain / keluarga sehingga klien tersebut menarik diri dalam berhubungan dengan orang lain atau lingkungannya termasuk pada staf perawatan yang dapat mempengaruhi proses perawatan dan pengobantannya.H. Manifestasi Klinik.Pada klien dengan penyakit kronis dapat terlihat manifestasi klinik baik fisik dan psikisnya.1. Fisika. Kehilangan fungsi fisik.b. Gangguan struktur tubuh.c. Kehilangan kemandirian.2. Psikis: a. Kehilangan fungsi mental.b. Marah.c. Cemas.d. Depresi.e. Denial.f. Menarik diri.II. ASUHAN KEPERAWATANProses asauhan keperawatan yang dilakukan pada klien dengan penyakit kronis atau klien dengan ketidakmampuan meliputi pengkajian kepada klien, keluarga dan lingkungannya, yang memungkinkan timbulnya diagnosa keperawatan yang bervriasi serta tindakan keperawatan yang konsisten dengan masalah dan kebutuhan klien dan evaluasi yang terus menerus untuk menilai respon klien terhadap tindakan dan pencapaian tujuan.A. PengkajianKlien dengan penyakit kronis dan ketidakmampuan akan merasa kehilangan dan mengalami perubahan pada persepsi dan situasi dirinya. Pengkajian kepada klien diarahakan untuk mengetahui sejauhmana klien menerima proses perubahan dan kehilangannya.1. Pengkajian pada klienFokus pengkajian dituukan pada bagaimana klien mengungkapkan rasa marah, defresi, cemas dan penolakannya terhadap penyakit dan situasi yang dialaminya. Respon tersebut sebenarnya normal adanya akan tetapi jika sedemikian rupa terjadi secara berlebih akan menimbulkan masalah bagi klien. Beberapa pengkajian yang ditjukan pada klien untuk menilai perubahan dan respon kehilangannya :• Apa respon emosi klien saat diinformasikan tentang diagnosa penyakitnya?• Apakah klien mengungkatkan perasaan sedih dan marahnya secara verbal terhadap situasi yang dialaminya ?• Apakah klien menangis dalam mengungkapkan kehilangan dan perubahan yang akan dialaminya akibat proses penyakit• Apakah klien membicarakan implikasi terhadap situasi yang dialaminya ?• Bagaimana klien mengungkapkan rasa marahnya, cemas, frustasi atau apakah defresi sehubungan dengan kehilangannya• Apakah klien membicarakan bagaimana keadaan dirinya sebelum sitasi ini dihadapi dan setelah klien mengalami keadaan kronis ?• Apakah klien mampu mengungkapkan secara verbal rasa frustasinya>• Apa efek adanya perubahan kemarahan bagi klien, keluarga atau pemberi asuhan ?• Apakah klien mengerti tentang pengobatan dan perawatan yang akan dijalaninya dan akibat-akibatnya ?• Apakah klien dapat berinteraksi dengan orang lain atau lingkungannya ?• Apakah klien menunjukkan ketergantungan, apati terhadap perawatan dan kebutuhannya ? sejaumana tingkat ketergantungan yang dialami ?• Apa koping yang dilakukan klien akibat ketidakmampuan dan ketidaktahuannya ?• Apakah ada penolakan atau denial terhadap situasi yang dialami ?• Apakah regresi yang ditunjukkan klien akibat defresi ?• Bagaimana klien menilai dirnya sehubungan dengan ketidakmampuan?• Apakah klien memiliki kemampuan untuk mobilisasi ? 2. Pengkajian terhadap keluarga Pengkajian keluarga dimaksudkan untuk mendapatkan informasi sejauhmana anggota keluarga menerima keadaan klien serta bagaimana peran keluarga sebagai support system dalam proses perawatan klien. Pengkajian difokuskan pada interaksi yang terjadi dalam keluarga dan pengelolaan terhadap stress akibat adanya anggota yang mengalami penyakit kronis.Beberapa data yang dperlu dikaji pada keluarga :• Bagaimana cara keluarga menanggapi respon klien ?• Apa reaksi emosi keluarga terhadap perasaan yang menyakitkan ?• Bagaimana kemampuan keluarga untukm mempengaruhi perkembangan diri klien?• Apakah klien dan parnert sexual dapat mendiskusikan tentang perubahan fungsi seksual akibat penyakit dan ketidakmampuannya?• Adakah sumber-sumber dan support yang dimilki keluarga ?• Apakah proses keluarga dalam mengambil keputusan ?• Apakah keluarga mengerti tentang fungsi seksual dan masa depan?• Apakah ada anggota keluarga lain yang dapat mensupport klien ?• Apakah klien mengisolasi diri terhadap keluarga atau keluarga mengisolasi klien ?3. Pengkajian kepada masyarakatPengaruh lingkungan sangat penting pada masalah-masalah penyakit kronis dan ketidakmampuan. Lingkungan merupakan suatu system yang berpengaruh terhadap klien. Bila respon lingkungan positif dengan memberikan dukungan atau ketersediaan fasilitas pelayanan dimasyarakat akan membantu klien dalam proses perawatannya serta meningkatkan penerimaan klien terhadap ketidakmampuannya. Beberapa pengkajian yang ditujukan pada lingkungan :• Apakah ada sumber-sumber pelayanan kesehatan yang tersedia dimasyarakat ?• Bagaimana stigma masyarakat terhadap klien misalnya, kecacatan fisik, penyakit menular,penyakit kelamin misalnya AIDS, gangguan jiwa, atau penyakit-penyakit yang menyebabkan ketidakmampuan ?Beberapa kondisi pada klien penyakit kronis yang membutuhkan dukungan dari lingkungan misalnya klien yang mengalami defresi pada saat penyakit semakin parah atau menjelang kematian dan ketika klien masuk ketahap penerimaan penyakitnya maka dukungan dari orang lain sangat penting yang memberi kesan klien tidak sendiri. B. Faktor Predisposisi Pengetahuan klien tentang penyakitInformasi yang salah akan mengakibatkan kecemasan bagi klien dan menghambat proses perawatan dan pengobatan Pengalaman masa laluPengamalan masa lalu mempengaruhi respon klien terhadap penyakit, jika sakit yang lalu tidak begitu parah kemudian menjadi kronik klien akan mengalami frustasi. Pesepsi diri dan pandangan hidupRespon klien terhadap penyakitnya dipengaruhi oleh keyakinan dan pandangan hidupnya, bila klien optimis dan merasa mampu maka cenderung akan lebih kooperatif dalam perawatannya, ia akan lebih cepat menerima kehilangan dan ketidakmampuannya. KetabahanKapasitas individu untuk mengemablaikan kestabilan psikososialnya ditentukan oleh: kemampuan klien untuk beradaptasi terhadap perubahannya, kekuatan ego, keintiman sosial, dan resourcefulness. Kekuatan yang dimiliki oleh klien untuk menerima tantangan sangat mempengaruhi proses perawatan dan penyembuhannya.Harapan yang dimiliki oleh klien sangat penting. Menurut Farran dan Popovich ada 4 macam harapan yaitu : 1) harapan yang berhubungan dengan usaha yang dilakukan terhadap penderitaan 2) harapan terhadap adanya aspek kebebasan dan kepercayaan 3) harapan sebagai proses piker yang rasional dan 4) harapan sebagai suatu hubungan dari proses interaksional.C. Faktor Presipitasi Faktor transisi sakitStress utama yang berhubungan dengan respon psikologis terhadap penyakit fisik adalah ketika ia secara tiba-tiba menjadi seorang klien, sebagian orang pada saat tiba-tiba menjadi sakit akan mengingkari. Prognosis penyakitPrognosis penyakit merupakan stressor bagi klien, pada klien mendengar diagnosa penyakitnya akan menimbulkan krisis. Kebutuah intervensi selama penetalaksanaanStressor dapat berhubungan ketika klien menjalai intervensi pada saat menjalani perawatan dan pengobatan. Banyakanya peralatan atau pengobatan yang lama atau ketika harus menjalani operasi. Respon dari orang dekatRespon dari orang dekat dapat juga mendsi sumber stressor bagi klien apabila orang dekatnya kurang paduli menyebabkan klien merasa tidak diperhatikan dan dapat pula respon orang dekat menjadi sumber dukungan yang dapat mengurangi stress yang dialami.D. PerilakuPerilaku yang dapat diamati pada klien disesuaikan dengan tahapan proses penyakit yaitu tahap diagnosa, pengobatan, penyembuhan/tehapan terminal.Respon perilaku klien pada saat mendengar diagnosa umumnya akan mengalami krisis, shock dan tidak percaya. E. Mekanisme koping Denial Regresi Kompensasi Menarik diriF. Diagnosa KeperawatanBeberap diagnosa keperawatan yang dapat ditemukan pada klien penyakit kronis:1. Menyangkal inefektif2. Koping indivisual inefektif3. Koping keluarga inefektif :ketidakmampuan:kurangnya pengetahuan4. Koping keluarga :potensial untuk pertumbuhan5. Gangguan konsep diri :citra diri negatif, harga diri rendah6. Kurangnya pengetahuan (uraikan)7. Intoleransi aktvitas8. Penatalaksanaan regimen terafi takefektif
G. PerencanaanPerencanaan perawatan disesuaikan dengan diagnosa yang ditemukaan. Prinsip perawatan :1. Mengajarkan koping konstruktif pada klien dan keluarga2. Meningkatkan kemampuan aktifitas mandiri klien sesuai kemampuannya3. Membantu klien dan keluarga menerima realitas4. Meningkatkan kemampuan keluarga dan lingkungan sebagai support system dalam perawatan klien.H. IntervensiMemberikan intervensi keperawatan pada klien penyakit kronis memerlukan pendekatan khusus, penting untuk mengetahui lebih awal tentang diagnosis penyakitnya.Intervensi pada klien :1. Tunjukkan perhatianPerawat harus memeberikan perhatian dengan cara menerima klien sebagai orang yang memiliki nilai, mengormati ide-idenya, perasaan dan kebutuhan. Perawat dapat menunjukkan perhatian dengan sabar mendengarkan keluhan klien, sikap empati, respek terhadap kebutuhan klien.2. Lakukan komunikasi terapeutik3. Ajarkan tekhnik realksasi dan guide imagery4. Pendidikan kesehatan5. Mobilisasi support system6. Bantu klien memalui proses berduka dengan menggunakan prinsip-prinsip kehilangan.7. Tingkatkan harga diri klien dengan mengkajai aspek-aspek posistif yang dimiliki
Intervesi pada keluarga1. Diskusikan dengan klien sumber-sumber dukungan yang dimilki sehubungan dengan perawatan klien2. Berikan penyuluhan pada keluarga tanggung jawab dan perannya3. Bantu keluarga untuk mengatasi rasa kehilangan4. Bersama keluarga membicarakan perubahan-perubahan yang terjadi dalam keluarga dan mengembalikan fungsi keluarga yang seimbangIntervensi kepada lingkungan. Khususnya pada klien dalam masa rehabilitasi dan dikembalikan kekomunitasnya:1. Lakukan kunjungan rumah untuk membantu klien melakukan penyesuaian dengan lingkungan sosialnya.2. Bersama klien dan keluarga membicarakan sumber-sumber dimasayarakat yang dapat dimanfaatkan misalnya fasilitas kesehatan, group3. Penyuluhan pada masyarakat. I. EvaluasiKeefektifan dan manajemen asuhan keperawatan yang diberikan dapat dievaluasi melalui kemampuan adaptasi klien dan keluarga terhadap penyakit kronis. Beberapa ukuran evaluasi hasil perawatan :1. Klien mendemonstrasikan keadequatan dengan mengenal tanda-tanda dan gejala dari penyakit dan cara penanganan yang tepat2. Klien menggunakan strategi koping yang adaptif, fleksibel dan realistis serta mengungkapkan kepuasan akan keefektifannya.3. Klien melakukan aktifas seharai-hari sesuai dengan kemampuan.4. Klien dapat mengenal kemungkinanan ancaman-ancaman yang dapat terjadi sehingga meningkatkan kewaspadaan diri.5. Keluarga memberikan dukungan dengan membantu klien dalam perawatan yang dibutuhan dirumah6. Lingkungan sosial menunjukkan penerimaan dan memberikan dukungan kepada klien.
3. ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN KRISISDEFENISIKrisis adalah respon terhadap peristiwa yang berbahaya dan dialami sebagai keadaan yang menyakitkan (kaplan &Sadock,1997). Krisis merupakan gangguan internal yang diakibatkan oleh suatu keadaan yang dapat menimbulkan stress dan dirasakan sebagai suatu ancaman bagi individu (Stuart &sundeen,1995). Dalam keadaan krisis individu akan memobilisasi reaksi yang kuat sehingga dapat terjadi ketidakseimbangan yang mengakibatkan terjadinya kecemasan. Fase awal krisis adalah kecemasan dan ketegangan diikuti mekanisme pemecahan masalah yang dapat adaptif atau maladaptif. Jika klien menggunakan mekanisme yang adaptif maka umumnya ia akan dapat menyelesaikan fase krisis dengan tanpa adanya gangguan , akan tetapi bila ia menggunakan mekanisme yang maladaptif menyebabkan terjadi fase krisis yang dalam sehingga mengakibatkan munculnya gejala-gejala gangguan psikiatrik. Mekanisme koping yang biasa digunakan seseorang sudah tidak efektif lagi untuk mengatasi ancaman, dan orang tersebut mengalami suatu keadaan tidak seimbang serta peningkatan ansietas. Ancaman, atau peristiwa pemicu, biasanya dapat diidentifikasi. Situasi Krisis dapat berhenti dengan sendiri dan dapat berlangsung kapan saja dari beberapa jam sampai beberapa minggu. Klien selama periode kacau sangat reseptif terhadap bantuan minimal dan mendapatkan hasil yang bermakna, oleh sebab itu fase ini menjadi fokus dalam memberikan perawatan. Batas waktu krisis dan penyelesaian sangat singkat paling lama enam minggu sehingga proses perawatan harus dilaksanakan secara spesifik dan berorientasi pada masalah yang aktual.TUJUAN INTERVENSI KRISISTujuan intervesi krisis adalah membantu agar individu kembali pada tingkat fungsi prekrisis.Penanganan krisis mempunyai keterbatasan waktu, dan konflik berat yang ditunjukkan dapat merupakan periode peningkatan penerimaan, yang dapat menstimulasi pertumbuhan personal. Tindakan yang dilakukan pada situasi krisis akan menentukan pertumbuhan atau disorganisasi bagi orang tersebut.
PRIORITAS TERJADINYA KRISIS
Pra Krisis : individu dapat berfungsi dengan baik dalam memenuhi kebutuhanKrisis : individu mengalami ancaman bahaya (disorganisasi, ketidakseimbangan) Individu mencoba menangani krisi dengan berbagi bantuan orang lain. Post Krisis: penyelesaian krisi dapat menghasilkan : sama saat pre krisis atau lebih baik, individu menemukan sumber dan cara baru atau lebih rendah sebelum krisis dan mengalami maladaptif.PROSES TERJADINYA KRISIS DAN FAKTOR PENGIMBANGStuar & Sundeen mengemukakan krisis terjadi melalui 4 fase yaitu :
Dalam menguraikan resolusi krisis, beberapa faktor pengimbang perlu dipertimbangkan. Keberhasilan krisis kemungkinan besar terjadi jika persepsi individu terhadap peristiwa adalah realitas ketimbang menyimpang, jika tersedia dukungan situasional sehingga orang lain dapat membantu menyelesaikan masalah, dan jika tersedia mekanisme koping untuk membantu mengurangi ansietas. Faktor-JENIS KRISIS1. Krisis maturasi. Krisis maturasi merupakan perkembangan atau transisi dalam kehidupan seseorang pada saat keseimbangan psikologis sedang terganggu, seperti pada masa remaja, menjadi orang tua, perkawinan atau pensiun. Krisis maturasi dapat dipengaruhi oleh model peran, sumber interpersonal yang memadai, dan kesediaan orang lain dalam menerima peran baru.2. Krisis situasi. Krisis situasi terjadi ketika peristiwa eksternal tertentu mengganggu keseimbangan psikologik individu atau keseimbangan kelompok. Sebagai contoh termasuk kehilangan pekerjaan, perceraian, kematian, masalah sekolah, dan penyakit.3. Krisis tak terduga. Krisis terjadi tanpa disengaja, tidak umum, dan tidak terduga yang dapat mengakibatkan banyak kehilangan dan perubahan lingkungan, seperti karena kebakaran, kebanjiran, karena nuklir, dan tragedi massa. Krisis ini tidak terjadi dalam kehidupan tiap orang, tetapi bila ini terjadi, dapat mengakibatkan stres yang hebat dan menantang semua kemampuan koping individuLima Tahap Respons Bencana ManusiaFase ResponsDampak
Heroik
Bulan Madu
Kekecewaan
Rekonstruksi dan reorganisasi Dalam tahap ini termasuk kejadian itu sendiri dan dengan karateristik syok, panik, rasa takut yang luar biasa. Kemampuan mengambil keputusan dan pengkajian terhadap faktor realitas sangat kurang, dan terlihat perilaku merusak diri.
Ada semangat kerjasama antara teman, tetangga, dan tim kedaruratan. Aktivitas konstruktif pada saat itu dapat membantu mengetasi persaan cemas dan depresi, tetapi aktivitas yang berlibihan dapat menimbulkan “kejenuhan”.
Tahap ini mulai tampak pada satu minggu sampai beberapa bulan setelah bencana. Kebuthan akan bantuan dari orang lain tetap ditunjukan, dan uang, sumber, serta dukungan yang diterima dari berbagai agen membantu untuk memperbaharui komunitas. Masalah psiologi dan perilaku mungkin tidak terlihat.
Tahap ini berlangsung sekitar 2 bulan sampai 1 tahun dan merupakan suatu waktu kekecewaan, dendam, frustrasi, kemarahan. Korban sering mulai merasa dendam, iri, atau menunjukkan rasa bermusuhan terhadap orang lain.
Individu mengakui bahwa mereka harus mengatasi masalah mereka sendiri . mereka mulai membangun rumah, usaha dan kehidupan mereka. Tahap ini akan berakhir dalam beberapa tahun setelah bencana terjadi.
PROSES ASUHAN KEPERAWATAN1. PengkajianSelama fase pengkajian, perawat harus mengumpulkan data tentang sifat dari krisis dan pengaruhnya. Pengkajian spesifik berikut ini harus dilakukan :1. Identifikasi peristiwa pemicu, teramasuk kebutuhan-kebutuhan yang terancam oleh peristiwa dan saat di mana gejala-gejala tampak.2. .Identifikasi persepsi individu terhadap kejadian, termasuk tema yang mendasari dan ingat yang berhubungan dengan peristiwa tersebut.3. Identifikasi sifat dan kekuatan sistem pendukung individu dan sumber koping, termasuk keluarga, teman, dan orang terdekat yang mungkin dapat menolong.4. .Identifikasi kekuatan dan mekanisme koping yang lalu, termasuk strategi koping yang berhasil dan tidak berhasil.Data yang berkaitan dengan respon individu yang tidak efektif terhadap krisis :1. Perasaan tidak berdaya, bingung putus asa2. Isolasi diri, atau perasaan diisolasi oleh lingkungan3. Mengungkapkan ketidakmampuan mengatasi masalah4. Tidak mampu mengambil keputusan yang tepat5. Kecemasan, panik6. Tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar7. Perhatian menurun8. Putus asa 2. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang utama (NANDA) untuk intervensi krisis:
Penyesuaian, kerusakan AnsietasKoping komunitas, inefektifKoping komunitas, potensial untuk ditingkatkanKoping komunitas, keluarga inefektif: perlemahanKoping komunitas, individu inefektifProses kelurga, perubahanKetakutanBerdua, antisipasiPertumbuhan dan perkembangan, perubahan Pemeliharaan kesehatan, perubahan Defisit pengetahuan (uraikan)Kedekatan orangtua/bayi/anak, risiko terhadap perubahan Peran asuhan orang tua, perubahRespons pascatraumaSindrom traum perkosaanGangguan harga diriIsolasi sosialDietas spritual
Diagnosa Medis yang BerhubunganDiagnosa medis yang relevan mungkin berkaitan dengan berbagai kelainan psikiatrik. Paling sering masuk dalam kategori kelainan penyesuaian dan kelainan stres pascatraumatik.DSM-IV DIAGNOSA MEDIS YANG BERHUBUNGAN DENGAN INTERVENSI KRISIS
Diagnosa DSM-IV
Kelainan penyesuaian
Kelainan penyesuaian dengan ansietasKelainan penyesuaian dengan depresi alam perasaan
Kelainan penyesuaian dengan campuran ansietas dan depresi alam perasaan
Kelainan penyesuaian dengan gangguan tindakanKelainan penyesuaian dengan gangguan campuran emosi dan tindakan
Kelainan stres pascatraumatik Gambaran Penting
Reaksi maladaptif terhadap stresor psikososial yang dapat diidentifikasi yang terjadi dalam 3 bulan awitan stresor tatapi tidak sampai lebih dari 6 bulan; perilaku meliputi kerusakan dalam fungsi sosial atau gejala-gejala reaksi yang berlebihan terhadap stresor
Gelisah, cemas, dan gugupMenangis atau putus asa
Kombinasi depresi dan ansitas serta kelainan lain
Pelanggaran terhadap hak orang lain untuk terhadap peraturan dan normal sosial yang sesuai dengan usia Gambaran emosial dan gangguan tindakan
Perkembangan gejala karakteristik setelah peristiwa traumatik psiologik yang umumnya di luar pengalaman manusia biasa; gejala-gejala termasuk mengalami kembali peristiwa tersebut; berkurangnya keterlibatan dengan dunia; mimpi buruk tentang kejadian lalu, dan berbagai perilaku depresi dan cemas.3. PERENCANAAN DAN IMPLEMENTASIDinamika yang melatar belakangi krisis dirumuskan, solusi alternatif terhadap masalah digali, dan langkah-langkah untuk mencapai solusi dirancang. Langkah-langkah tersebut termasuk mendapatkan dukungan lingkungan dan menguatkan mekanisme koping. Ada empat tingkat intervensi krisis, yang menunjukkan hirarki yang paling dalam sampai yang paling permukaan 1. Manipulasi lingkungan. Ini merupakan intervensi yang secara langsung mengubah .situasi fisik dan interpersonal individu yang bertujuan memberikan dukungan situasional atau menghilangkan stres.2. General Support. Memberikan individu perasaan bahwa perawat berada dipihaknya dan akan membantu mereka. Perawat menunjukkan kehangatan, penerimaan, empati dan perhatian dalam dukungan jenis ini.3. Pendekatan generik. Intervensi krisis jenis ini dirancang untuk mencapai individu dengan resiko tinggi dan sejumlah besar masyarakat segera mungkin. Pendekatan ini menerapkan metode spesifik untuk semua orang yang sedang menghadapi krisis serupa, seperti membantu korban bencana untuk menjalani proses berduka.4. Pendekatan individual. Pendekatan ini termasuk menegakkan diagnosa dan melakukan tindakan masalah spesifik pasien . Pendekatan individu efektif untuk semua jenis krisis dan kombinasi krisis atau ketika terdapat risiko bunuh diri atau resiko membunuh orang lain.Teknik intervensi krisis bersifat aktif, fokal dan eksploratif. Teknik tersebut tidak interprefit karena tujuannya adalah resolusi cepat dari suatu masalah mendesak.Tekhnik tindakan krisis: 1. Abraction yaitu mengeksplorasi perasaan atau memventilasi klien dengan mengekspresikan perasaan emosi secara bebas, jangan menghakimi atau menyalahkan, hindari konfrontasi langsung2. Klarifikasi. Bantu klien memperjelas hubungan masalah dengan penyebab krisis3. Sugesti/saran.Klien dipengaruhi untuk menerima ide atau keyakinan positif untuk mengatasi masalah 4. Manifulasi lingkungan. Ciptakan lingkungan yang terapeutik agar klien dapat mengembangkan koping untuk memecahkan masalah.5. Kuatkan respon adaptif/memberikan reinforcement positif.6. Dukungan terhadap koping adaptif. 7. Tingkatkan harga diri klien.8. Ekplorasi penyelesaian masalah bersama dengan klien dan anggota keluarga.4. EVALUASI 1. Apakah individu telah kembali pada tingkat fungsi sebelum terjadi krisis?2. Apakah kebutuhan individu sebenarnya, yang telah terancam oleh peristiwa pencetus atau yang menengangkan, telah dipenuhi ?3. Apakah perilaku maladaptif individu atau gejala telah berkurang?4. Apakah mekanisme koping adaptif individu telah berfungsi kembali?5. Apakah individu mempunyai sistem pendukung yang adequat?6. Apakah yang telah dipelajari individu dari pengalaman ini mungkin membantu untuk koping terhadap krisis yang akan datang?






0 komentar:
Post a Comment